Help WRI turn ideas into action all over the world.

You are here

Mencegah Kebakaran Hutan Di Indonesia: Fokus Pada Provinsi Riau, Lahan Gambut, Serta Pembakaran Ilegal

Baca versi bahasa Inggris di sini.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan gambut yang baru-baru ini terjadi di Indonesia meninggalkan jejak kerusakan yang sangat dahsyat. Kebakaran hutan, yang mencapai puncak pada bulan Maret serupa dengan krisis kabut asap Juni 2013, menghasilkan kabut asap berbahaya dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini mengakibatkan ditutupnya ratusan sekolah dan beberapa bandara lokal, serta mungkin telah mengakibatkan gangguan pernapasan kepada lebih dari 50.000 orang.

Tragisnya, kebakaran hutan ini bukanlah peristiwa yang hanya terjadi sesaat. Tahun lalu, Indonesia mengalami dua kali kebakaran hutan dan lahan gambut yang besar di wilayah yang sama. Musim kemarau berikutnya tinggal dua bulan lagi. Mencegah kebakaran hutan yang terus-menerus terulang dan melindungi masyarakat, kegiatan bisnis, dan hutan di Indonesia, membutuhkan rencana proaktif untuk mencegah kebakaran kedepannya, atau setidaknya mengurangi secara signifikan intensitas kebakaran.

Sebagai bagian dari seri kajian kami yang sedang berlangsung, para peneliti dari WRI menggunakan data dari Global Forest Watch bersama dengan data awal dari riset lapangan untuk menganalisis masalah kebakaran hutan dan kabut asap di Indonesia. Kami berhasil menyusun tiga rekomendasi utama yang dapat segera diimplementasikan untuk membantu mengurangi resiko kebakaran hutan kedepannya.

1. Fokuskan usaha pencegahan di beberapa kecamatan di empat kabupaten di provinsi Riau

Indonesia terbagi dalam 34 provinsi, di mana di dalamnya terdapat beberapa kabupaten, dan di dalam kabupaten terdapat beberapa kecamatan. Dengan menumpang-tindihkan peringatan titik api NASA dengan batas-batas wilayah provinsi, kabupaten, dan kecamatan di Indonesia, dapat dilihat bahwa Provinsi Riau memiliki peringatan titik api terbesar di Indonesia (58 persen), dan lebih dari empat per lima dari total peringatan titik api di Sumatra (81 persen) dalam 12 bulan terakhir.

Menelaah lebih lanjut data yang tersedia, dapat dilihat bahwa di dalam Provinsi Riau, hanya sebagian kecil Kabupaten yang terkena dampak dari kebakaran hutan. Empat Kabupaten di Provinsi Riau – Bengkalis, Rokan Hilir, Pelalawan, dan Siak – merupakan lokasi terjadinya 52 persen dari total peringatan titik api di seluruh Indonesia dalam satu tahun terakhir (lihat gambar 2 dan 3). Di dalam empat Kabupaten ini, Global Forest Watch menunjukkan dengan akurat beberapa Kecamatan yang menjadi lokasi mayoritas peringatan titik api, dengan Bukit Batu, Tanah Putih, Kandis, dan Medang Kampai sebagai Kecamatan dengan peringatan titik api terbanyak.

Hal tersebut merupakan temuan yang sangat penting, karena menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia dapat mengurangi risiko kebakaran dan kabut asap secara signifikan, dengan memusatkan sumber daya dan usaha pencegahan kebakaran—termasuk investigasi dan penegakkan hukum—di beberapa wilayah kecamatan di Riau.



2. Berikan perhatian lebih untuk pencegahan kebakaran lahan gambut

Analisis Global Forest Watch menunjukkan bahwa 75% peringatan titik api terjadi di wilayah lahan gambut, tipe tanah yang sebagian besar tersusun atas material organic yang terurai (lihat gambar 5 dan 6).

Kebakaran di lahan gambut berlangsung lebih lama dan menghasilkan asap lebih banyak dibandingkan kebakaran lainnya, dan berperan besar dalam menyumbangkan kabut asap berbahaya selama setahun terakhir. Kebakaran lahan gambut juga lebih susah dipadamkan dan menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca ke atmosfer dibandingkan kebakaran lainnya, dan juga menghasilkan asap yang berhubungan erat dengan peningkatan resiko gangguan pernapasan dan serangan jantung.

Oleh sebab itu, otoritas pemerintah Indonesia, termasuk pemerintah nasional dan lokal, para penegak hukum, para pelaku bisnis, dan masyarakat, harus memprioritaskan pencegahan kebakaran di lahan gambut, dengan usaha khusus yang difokuskan kepada Kecamatan dan Kabupatan di Riau seperti yang telah dicantumkan sebelumnya (lihat gambar 3 dan 4, di atas).



3. Menangkap pelaku pembakaran liar dan memberikan alternatif pembukaan lahan

Dengan pengecualian beberapa riset awal dari CIFOR, riset lapangan mengenai kebakaran hutan di Riau sangatlah terbatas. WRI mengirimkan staf ke Riau pada puncak krisis kabut asap baru-baru ini untuk mengumpulkan data awal mengenai sumber dari kebakaran yang terjadi di Riau. Wawancara, laporan media lokal, dan observasi langsung, menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

  • Banyak kebakaran yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan kelapa sawit, kayu, dan penebangan. Hal ini konsisten dengan penemuan awal WRI bahwa setengah dari total peringatan titik api terletak di areal konsesi besar di mana komoditas yang disebutkan di atas dikembangkan.

  • Walaupun demikian, kebakaran disebabkan oleh berbagai pihak dengan beragam alasan yang berbeda. Sebagai contohnya, beberapa petani kecil membakar lahan sebagai usaha pembukaan lahan yang murah untuk lahan peternakan. Api ini seringkali terbakar diluar kendali, menyebar hingga lahan masyarakat dan konsesi, dan bahkan menghancurkan perkebunan yang sudah ada.

  • Beberapa kebakaran dapat disebabkan oleh konflik di antara perusahaan kelapa sawit dan kertas pulp besar dengan petani-petani kecil. Masyarakat lokal dan perusahaan pertanian yang berskala besar di Indonesia memiliki hubungan yang sangat kompleks, seringkali penuh dengan konflik, seperti yang terlihat baru-baru ini selama kerusuhan di PT. Asiatic Persada di Sumatra yang membunuh satu warga lokal. Api mungkin dapat digunakan oleh masyarakat merebut lahan-lahan sengketa atau usaha balas dendam kepada perusahaan.

  • Perusahaan kecil dan menengah dapat juga menggunakan api secara illegal untuk mempercepat pembukaan lahan. Hal tersebut konsisten dengan penemuan awal dari World Agroforestry Centre, yang mengidentifikasi bahwa “pengusaha lokal menengah” merupakan penyebab sebagian besar kebakaran.


Api telah membakar ratusan hektar lahan yang dikelola oleh PT. Surya Dumai Agrindo, pemasok untuk First Resources (anggota RSPO). Dekat Desa Dompas, Provinsi Riau. Foto oleh: Julius Lawalata, Maret 2014.

Pekerja Wilmar dan tentara Indonesia melakukan patroli untuk mencari kebakaran dengan truk yang penuh dengan air. Foto oleh: Julius Lawalata, Maret 2014.

Papan peringatan yang bertuliskan “Dilarang Membakar Hutan” berdiri di depan ratusan lahan yang terbakar di dekat Desa Selinsing, Provinsi Riau. Foto oleh: Julius Lawalata, Maret 2014.

Pemerintah Indonesia, bersama dengan mitra kerjanya seperti NGO dan institusi pembangunan internasional, dapat menggunakan informasi ini untuk memfokuskan usaha mereka di Riau. Perusahaan besar seperti APRIL dan Sinar Mas, yang mengembangkan perkebunan dalam skala besar di seluruh Riau, dapat juga membantu mengawasi lahan di luar wilayah konsesi mereka menggunakan kapasitas dan peralatan sistem pengawasan mereka yang canggih.

Secara khusus, pemerintah Indonesia dan pihak-pihak terkait dapat melakukan langkah-langkah berikut untuk mengurangi kebakaran di Kabupaten-Kabupaten yang paling rawan terkena kebakaran di Riau:

  • Mengembangkan program-program dan kerjasama di antara pemerintah lokal dan perusahaan-perusahaan besar untuk memberikan petani kecil akses yang murah terhadap peralatan pembukaan lahan, mulai dari wilayah-wilayah yang paling rawan kebakaran di Riau.

  • Membantu masyarakat lokal dan perusahaan untuk menyelesaikan sengketa lahan yang terjadi di antara mereka. Sebagai contohnya, inisiatif ONEMAP pemerintah Indonesia dan usaha-usaha terkait dapat memprioritaskan Riau dalam usaha untuk mengurangi konflik dan menyelesaikan sengketa lahan.

  • Meningkatkan usaha penegakan hukum kepada perusahaan yang melakukan pembakaran secara illegal. Menangkap petani-petani kecil tidak akan mengurangi potensi kebakaran kedepannya secara signifikan, apalagi kalau petani-petani tersebut tidak memiliki alternatif lain dalam usaha pembukaan lahan. Oleh sebab itu, penegak hukum di Indonesia harus mulai memprioritaskan investigasi kepada perusahaan kecil, menengah, dan besar, dan memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab terhadap terjadinya kebakaran mendapatkan hukumannya, bersama dengan pejabat publik yang terbukti melakukan pelanggaran hukum. KPK dan unit khusus mereka untuk kejahatan hutan, dapat lebih memfokuskan usaha mereka kepada Riau, melihat pentingnya pencegahan kebakaran di Riau.

Setiap kali Indonesia mengalami krisis kebakaran, masyarakat dan perekonomiannya merasakan dampaknya. Menindaklanjuti kebakaran ketika sudah terjadi tidaklah efektif, sangat mahal, dan berbahaya untuk personel pemadam kebakaran dan masyarakat sekitar. Rencana pencegahan kebakaran yang proaktif dan komprehensif, dengan penekanan khusus kepada beberapa Kecamatan penting di Provinsi Riau – melibatkan pemerintah, NGO, dan pelaku bisnis – dapat membantu memastikan bahwa hutan di Indonesia dapat terus memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan di tahun-tahun yang akan datang.

PELAJARI LEBIH LANJUT: Untuk analisis WRI yang lebih banyak mengenai kebakaran di Indonesia, silakan periksa serial blog kami.

Kami menggunakan Data Titik Api Aktif NASA untuk menentukan kemungkinan lokasi kebakaran di lapangan. Sistem ini menggunakan satelit MODIS NASA yang mensurvey bumi setiap 1-2 hari. Sensor-sensor yang ada pada satelit ini dapat mendeteksi heat signature dari api menggunakan pita spektrum inframerah. Ketika citra satelit tersebut diproses, sebuah algoritma mencari tanda-tanda potensi keberadaan titik api. Ketika titik api tersebut terdeteksi, sistem kemudian mengindikasikan area sebesar 1 kilometer persegi dimana titik api tersebut berada dan memunculkannya sebagai “peringatan titik api”. Sistem ini hampir selalu mendeteksi titip api sebesar 1.000 meter persegi, tapi dalam kondisiideal, sistem ini bahkan dapat mendeteksi kobaran api sekecil 50 meter persegi. Karena setiap satelit melewati garis khatulistiwa dua kali sehari, sistem peringatan titik api ini dapat menyediakan data yang nyaris seketika. Peringatan titik api ini lalu ditampilkan di laman FIRMS NASA dalam jangka waktu 3 jam setelah deteksi berlangsung oleh satelit tersebut.

Tingkat akurasi deteksi titik api juga sudah meningkat cukup jauh sejak sistem deteksi api pertama kali dikembangkan untuk satelit MODIS. Saat ini, tingkat deteksi ‘positif palsu’ (false positive) hanya 1/10 hingga 1/1000 dari tingkat pada saat sistem ini pertama kali dikembangkan di awal tahun 2000an. Algoritma yang digunakan untuk mendeteksi titik api saat ini juga telah memiliki langkah untuk mengeliminasi sumber deteksi positif palsu yang dapat berasal dari kilau matahari, kilau permukaan air, lingkungan gurun yang panas dan sumber deteksi positif palsulainnya. Ketika sistem tidak memiliki cukup informasi untuk mendeteksi titik api secara meyakinkan, peringatan atas potensi titik api tersebut akan diabaikan. Secara umum, observasi pada malam hari memiliki akurasi yang lebih tinggi dibandingkan observasi pada siang hari; dan ekosistem gurun memilikitingkat deteksi positif palsu yang lebih tinggi. Banyak penelitian yang telah dipublikasikan untuk memvalidasi data peringatan titik api MODIS milik NASA untuk dapat digunakan dalam berbagai skenario aplikasi. WRI telah mengajukan sebuah rekomendasi untuk menggunakan sistem ini dalam mendeteksi api yang digunakan untuk pembukaan lahan (dideskripsikan dalam tulisan Morton dan Defries di tahun 2008), mengidentifikasi titik api dengan nilai kecerahan (brightness value) diatas 330 Kelvin dan tingkat keyakinan deteksi (confidence value) diatas 30% yang dapat mengindikasikan api dengan tingkat deteksi keyakinan tinggi (high confidence) untuk pembukaan lahan. Titik api dengan tingkat keyakinan deteksi rendah (low confidence) adalah api dengan intensitas rendah yang dapat berasal dari aktivitas pembersihan lahan non-hutan (dapat berupa pembersihan ladang atau pembakaran rumput). Penggunaan klasifikasi ini telah memunculkan standar yang lebih tinggi dalam mendeteksi keberadaan titik api daripada sekedar menggunakan peringatan titik api secara umum.

Sumber:

NASA FIRMS FAQ Morton, D., R. DeFries, J. T. Randerson, L. Giglio, W. Schroeder, and G. van der Werf. 2008. Agricultural intensification increases deforestation fire activity in Amazonia. Global Change Biology 14:2262-2276.

Data Sources for Figures:

NASA Fire Information for Resource Management (FIRMS) Active Fire Data, March 18, 2013 - March 17, 2014

Administrative boundaries from GADM and Center for International Forestry Research (CIFOR)

Peat data from Wetlands International, 2004

Add new comment

Stay Connected

Sign up for our newsletters

Get our latest commentary, upcoming events, publications, maps and data. Sign up for the weekly WRI Digest.