Help WRI turn ideas into action all over the world.

You are here

Kobaran Api Indonesia: Sebuah Pertanda Buruk Mengawali Musim Kemarau di Riau

Baca versi bahasa Inggris di sini.

Penduduk Indonesia dan Singapura beberapa minggu belakangan mulai bersiap-siap sehubungan dengan peringatan WRI dan beberapa institusi lain bahwa musim kemarau tahun ini terindikasi akan menyebabkan lonjakan api di Pulau Sumatera, ditemani dengan kabut asap beracun di sekitar kawasan. Beriringan dengan tibanya cuaca kering, serta peluang El Nino yang akan meniup api lebih luas, sistem satelit NASA Active Fires telah mendeteksi sejumlah peringatan titik api dalam beberapa hari ini, khususnya di Provinsi Riau yang juga merupakan lokasi utama kebakaran yang parah serta episode kabut asap Juni lalu serta awal tahun ini.

Seperti dideskripsikan dalam analisis WRI sebelumnya, kebakaran merupakan masalah yang sejak lama terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Kebakaran yang sering digunakan untuk membuka lahan sebagai pertanian ini menghasilkan polusi udara beracun yang dapat sulit dikendalikan setelah beberapa waktu. Meskipun penyebab kebakaran ini sangat rumit, seringkali masalahnya berhubungan dengan perusahaan yang membuka lahan untuk sawit atau perkebunan lain, petani kecil yang membuka lahan untuk ditanami, atau masyarakat yang menjadikan api sebagai senjata dalam konflik melawan perusahaan maupun pemerintah. Gambar 1, 2, dan 3 di bawah menunjukkan kabupaten dan kecamatan di Riau yang memiliki jumlah peringatan titik api dengan tingkat keyakinan deteksi tinggi paling banyak selama satu minggu terakhir. Pada Februari tahun ini dan Juni tahun lalu, peringatan titik api luar biasa terkonsentrasi di Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir, dan Pelalawan.

Banyak Titik Api Ditemukan dalam Konsesi

Gambar 4 dan 5 di bawah menunjukkan konsesi HTI, sawit, dan HPH mana saja yang memiliki jumlah titik api dengan tingkat keyakinan deteksi tinggi paling banyak dalam batas wilayah mereka. Kebanyakan perusahaan ini juga berhadapan dengan jumlah titik peringatan yang tinggi sebelumnya.

Editor’s note: Figure 5 has been updated with new information regarding the affiliation of one of the concessions of pulpwood company PT Satria Perkasa Agung. An earlier version of this post listed Sinar Mas Forestry / APP as the company’s “Group, Affiliate, or Main Buyer.” APP has notified WRI that it is not affiliated with that concession of PT Satria Perkasa Agung.

Berita baiknya, para pembuat kebijakan di Indonesia telah memulai memerhatikan peringatan-peringatan sebelumnya mengenai risiko kebakaran. Wakil Presiden Indonesia Boediono telah mengadakan pertemuan dengan para menteri senior dari beberapa lembaga serta sebuah ‘ruang situasi’ (situation room) yang dilaporkan akan dibentuk untuk memastikan tindakan yang lebih terkoordinasi. Usaha ini harus terus digandakan untuk memastikan kapabilitas pemadaman kebakaran dapat dikirimkan dalam hitungan jam setelah titik api baru ditemukan. Jika tidak, api yang dibiarkan dapat menyebar dengan cepat, membuat usaha pemadaman menjadi sangat mahal, tidak efektif, sekaligus berbahaya.

Seperti yang telah WRI tekankan sebelumnya, langkah kunci yang diperlukan adalah memperkuat koordinasi intra-lembaga serta komitmen terhadap sumber daya untuk menyelesaikan penyebab-penyebab mendasar dari kebakaran ini, dan pada saat bersamaan memperbaiki usaha-usaha implementasi, yang sejauh ini sangat kurang diperhatikan. Ringkasan rekomendasi-rekomendasi WRI dapat dilihat pada analisis-analisis sebelumnya berikut.

PELAJARI LEBIH LANJUT: Untuk analisis WRI lainnya mengenai kebakaran di Indonesia, silakan baca serial blog kami.

WRI menggunakan Data Titik Api Aktif NASA untuk menentukan kemungkinan lokasi kebakaran di lapangan. Sistem ini menggunakan satelit MODIS NASA yang melakuka survei terhadap bumi setiap 1-2 hari. Sensor-sensor yang ada pada satelit ini dapat mendeteksi tanda panas (heat signature) dari api menggunakan pita spektrum inframerah. Ketika citra satelit tersebut diproses, sebuah algoritma mencari tanda-tanda potensi keberadaan titik api. Ketika titik api tersebut terdeteksi, sistem kemudian mengindikasikan area sebesar 1 kilometer persegi dimana titik api tersebut berada dan memunculkannya sebagai “peringatan titik api”. Sistem ini hampir selalu mendeteksi titip api sebesar 1.000 meter persegi, tapi dalam kondisi ideal, sistem ini bahkan dapat mendeteksi kobaran api sekecil 50 meter persegi. Karena setiap satelit melalui garis khatulistiwa dua kali sehari, sistem peringatan titik api ini dapat menyediakan data yang nyaris seketika. Peringatan titik api ini lalu ditampilkan di laman FIRMS NASA dalam jangka waktu 3 jam setelah deteksi berlangsung oleh satelit tersebut.

Tingkat akurasi deteksi titik api juga sudah meningkat cukup jauh sejak sistem deteksi api pertama kali dikembangkan untuk satelit MODIS. Saat ini, tingkat deteksi ‘positif palsu’ (false positive) hanya 1/10 hingga 1/1000 dari tingkat pada saat sistem ini pertama kali dikembangkan di awal tahun 2000an. Algoritma yang digunakan untuk mendeteksi titik api saat ini juga telah memiliki langkah untuk mengeliminasi sumber deteksi positif palsu yang dapat berasal dari kilau matahari, kilau permukaan air, lingkungan gurun yang panas dan sumber deteksi positif palsulainnya. Ketika sistem tidak memiliki cukup informasi untuk mendeteksi titik api secara meyakinkan, peringatan atas potensi titik api tersebut akan diabaikan. Secara umum, observasi pada malam hari memiliki akurasi yang lebih tinggi dibandingkan observasi pada siang hari; dan ekosistem gurun memilikitingkat deteksi positif palsu yang lebih tinggi. Banyak penelitian yang telah dipublikasikan untuk memvalidasi data peringatan titik api MODIS milik NASA untuk dapat digunakan dalam berbagai skenario aplikasi. WRI telah mengajukan sebuah rekomendasi untuk menggunakan sistem ini dalam mendeteksi api yang digunakan untuk pembukaan lahan (dideskripsikan dalam tulisan Morton dan Defries di tahun 2008), mengidentifikasi titik api dengan nilai kecerahan (brightness value) diatas 330 Kelvin dan tingkat keyakinan deteksi (confidence value) diatas 30% yang dapat mengindikasikan api dengan tingkat deteksi keyakinan tinggi (high confidence) untuk pembukaan lahan. Titik api dengan tingkat keyakinan deteksi rendah (low confidence) adalah api dengan intensitas rendah yang dapat berasal dari aktivitas pembersihan lahan non-hutan (dapat berupa pembersihan ladang atau pembakaran rumput). Penggunaan klasifikasi ini telah memunculkan standar yang lebih tinggi dalam mendeteksi keberadaan titik api daripada sekedar menggunakan peringatan titik api secara umum.

Sumber:

NASA FIRMS FAQ Morton, D., R. DeFries, J. T. Randerson, L. Giglio, W. Schroeder, and G. van der Werf. 2008. Agricultural intensification increases deforestation fire activity in Amazonia. Global Change Biology 14:2262-2276.

Sumber Data untuk Grafik dan Gambar:

NASA Fire Information for Resource Management (FIRMS) Active Fire Data, June 17, 2014 - June 23, 2014

Administrative boundaries from GADM and Center for International Forestry Research (CIFOR)

Add new comment

Stay Connected

Sign up for our newsletters

Get our latest commentary, upcoming events, publications, maps and data. Sign up for the weekly WRI Digest.