You are here

Blog Posts: Indonesia Forest Fires Bahasa

  • Kebakaran Hutan di Indonesia Mencapai Tingkat Tertinggi Sejak Kondisi Darurat Kabut Asap Juni 2013

    Di awal Maret 2014, kebakaran hutan dan lahan gambut di provinsi Riau, Sumatera, Indonesia, melonjak hingga titik yang tidak pernah ditemukan sejak krisis kabut asap Asia Tenggara pada Juni 2013. Hampir 50.000 orang mengalami masalah pernapasan akibat kabut asap tersebut, menurut Badan Penanggulangan Bencana Indonesia. Citra-citra satelit dengan cukup dramatis menggambarkan banyaknya asap polutan yang dilepaskan ke atmosfer, yang juga berkontribusi kepada perubahan iklim.

    Share

  • Fires in Indonesia Spike to Highest Levels Since June 2013 Haze Emergency

    In Indonesia, dramatic satellite images of heavy smoke plumes show the large amount of pollutants being discharged to the atmosphere. The fires are extensive in areas with deep peat soils, suggesting high volumes of carbon are being released, contributing to climate change.

    Global Forest Watch shows that some of the largest fires are on fully developed plantations, despite the fact that many of these companies are committed to eliminating fire in their management practices. The persistence of the fires—and the intensity with which they have returned—raises important questions.

    Share

  • Fire Alerts Spike in Indonesia as Risk of Haze Crisis Returns

    Cecelia Song, Kemen Austin, Andrew Leach, and other experts at WRI also contributed to this post.

    Bacalah posting blog dalam Bahasa Indonesia di sini

    Fires are flaring up once more on the Indonesian island of Sumatra. Media reports in the region indicate that the resulting smog has already reached unhealthy levels over parts of Indonesia and Malaysia.

    Share

  • Risiko Kebakaran Hutan dan Kabut Asap Indonesia Masih Tinggi: Empat Temuan Mencemaskan Terkait Kebakaran Hutan Belakangan

    Cecelia Song, Ariana Alisjahbana, Kemen Austin, Andrew Leach, Anne Rosenbarger, James Anderson dan ahli lainnya di WRI juga berkontribusi dalam artikel ini. Translation by Andhyta Utami, Andika Putraditama, and Ariana Alisjahbana

    Read this post in English here

    Menteri dari lima negara Asia Tenggara akan berkumpul di Malaysia minggu depan untuk sebuah pembahasan penting mengenai usaha mengatasi kabut asap. Hal ini terkait terjadinya kebakaran hutan baru-baru ini yang telah memecahkan rekor polusi udara tertinggi di berbagai wilayah Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Beriringan dengan dimulainya pertemuan ke-15 dari Komite Pengarah Tingkat Menteri Sub-Regional untuk Polusi Lintas-Batas (Sub-Regional Ministerial Steering Committee on Transboundary Haze Pollution), analisis mendalam mengenai pola dan penyebab dari api terus berlanjut. Semoga saja krisis terakhir ini dapat memastikan bahwa pertemuan tersebut dapat berlangsung lebih produktif dari 14 rapat sebelumnya, sekaligus mendorong kawasan untuk menemukan penyebab dari kebakaran dan kabut asap tersebut.

    Pada pertengahan Juni, yakni puncak dari fenomena kabut asap tersebut, WRI mempublikasikan sebuah rangkaian tulisan yang terdiri atas tiga analisis mengenai kebakaran hutan di Indonesia, menggunakan peringatan titik api dari data satelit NASA dan peta resmi konsesi perkebunan HPH, kelapa sawit, serta HTI pemerintah Indonesia. Kami menemukan bahwa sekitar setengah dari peringatan titik api di Sumatera bertempat di dalam perkebunan kelapa sawit dan akasia, sekaligus mengidentifikasi perusahaan mana yang bertanggung jawab dalam pengelolaan area tersebut. Sejak penerbitannya, analisis dan temuan-temuan tersebut telah direplikasi, dikonfirmasi, serta dikembangkan oleh beberapa organisasi lainnya, termasuk CIFOR, Eyes on the Forest, Greenpeace, dan Union of Concerned Scientists.

    Share

  • Data Terbaru Menunjukkan Kebakaran Hutan di Indonesia Adalah Krisis Yang Telah Berlangsung Sejak Lama

    Selama beberapa hari terakhir ini, WRI telah melacak lokasi peringatan titik api yang terjadi di Sumatera. Dalam perkembangan terbaru ini, WRI menganalisis tren historis kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera. Baca analisa sebelumnya.

    Read this post in English here

    Kebakaran terus terjadi di Indonesia, menyebarkan kabut asap yang menyiksa ke penjuru negeri dan juga Singapura serta Malaysia. Hasil riset terbaru dari World Resources Institute menunjukkan tren yang mengkhawatirkan terkait fenomena kebakaran hutan ini:

    • Kebakaran yang terjadi saat ini tidak melampaui batas normal tren historis kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Indonesia, namun hal ini mungkin berubah jika kobaran api terus membesar.

    • Kebakaran saat ini adalah bagian dari krisis endemik kebakaran hutan, lahan dan pembersihan lahan yang telah berlangsung sejak lama di Indonesia. Aksi nyata dan tegas jelas dibutuhkan untuk mencegah memburuknya krisis ini.

    Share

  • WRI Merilis Data Terbaru Terkait Kebakaran Hutan Di Indonesia

    Cecelia Song, Andika Putraditama, Andrew Leach, Ariana Alisjahbana, Lisa Johnston, James Anderson dan ahli lainnya di WRI juga berkontribusi dalam artikel ini.

    Read this post in English here.

    Hari Jumat yang lalu, World Resources Institute (WRI) mempublikasikan data detil terkait lokasi peringatan titik api di Sumatera yang telah menyebabkan kabut asap yang sangat mengganggu dan berpotensi beracun di wilayah Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Pemerintah ketiga negara, perusahaan-perusahaan, maupun media semua berlomba untuk mencari data untuk memahami penyebab dan lokasi sebaran titik api, serta memutuskan siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

    Selama beberapa hari terakhir ini, WRI telah melacak lokasi sebaran kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera, sebuah pulau di bagian barat Indonesia. Dalam perkembangan terbaru ini, WRI menganalisis tren historis kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera. Baca analisa sebelumnya.

    Analisis terbaru dari WRI menunjukkan adanya perkembangan sebaran peringatan titik api di Sumatera dari waktu ke waktu serta kaitannya dengan konsesi perusahaan. Dua data penting dalam analisis ini antara lain:

    Share

  • Mengintip diantara kabut: Bagaimana data dapat membantu kita menyelidiki kebakaran di Indonesia

    WRI telah memperbarui data terkait kebakaran hutan di Indonesia. Baca artikelnya di sini.

    Cecelia Song, Andika Putraditama, Andrew Leach, Ariana Alisjahbana, Lisa Johnston, Jessica Darmawan, James Anderson dan ahli-ahli lainnya di WRI juga berkontribusi dalam artikel ini.

    Read this story in English here

    Penduduk di,Singapura, sebagian dari Indonesia dan Malaysia sedang mengalami kabut asap yang menganggu aktivitas sehari-hari akibat kebakaran hutan. Tingkat kualitas udara di Singapura telah jatuh ke tingkat terburuk yang pernah tercatat di pulau tersebut sedangkan bandara di Indonesia dan beberapa sekolah di Malaysia harus ditutup. Hampir semua kebakaran yang terjadi baru-baru ini (12-20 Juni) berasal dari titik api di Sumatera.

    Media massa banyak memuat debat sengit mengenai lokasi, sebab, dan sifat kebakaran. Saat ini WRI telah menyusun beberapa data awal yang menunjukkan beberapa pola menarik. Data awal menunjukkan kebakaran yang terjadi relatif sedikit di kawasan lindung dan konsesi penebangan. Lebih dari setengah dari peringatan titik api yang ditemukan terjadi pada hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit. Meskipun membakar hutan bagi perusahaan di Indonesia merupakan perbuatan ilegal, perusahaan di masa lalu telah diketahui menggunakan api untuk pembukaan lahan. Hal ini akan menjadi penting untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut mengenai lokasi kebakaran dan penyebabnya. Informasi ini dapat memberi implikasi penting bagi perusahaan-perusahaan dan badan pemerintah yang terlibat.

    Share

Stay Connected

Sign up for our newsletters

Get the latest commentary, upcoming events, publications, maps and data. Sign up for the biweekly WRI Digest .